Sabtu, H / 26 September 2020

Hikmah di Tengah Kebakaran Hutan di Hobart (1)

Rabu 29 May 2019 15:15 WIB

Author :Fiya Azwia

Hutan itu harus dijaga demi keasrian bumi

Foto: ESQ Media

ESQNews.id, JAKARTA - Allah bicara melalui tanda-tanda alam. Kebakaran hutan. Panasnya cuaca, dan perasaan getir ketika orang menghujat agama yang kuanut. Semua datang bersamaan. Namun ketika kebakaran mereda, cuaca berangsur hangat, kami bisa berjalan bersama.

 

Kamis, 12 Oktober cuaca di kota Hobart, Tasmania, terasa sangat panas dengan temperatur 38 derajat. Sedemikian panasnya, hingga terjadi kebakaran di Mount Nelson dan sekitar Eastern Shores akibat ranting-ranting yang terbakar. Dalam cuaca yang sangat panas itu, saya yang sedang menunaikan ibadah puasa, merasa lemas sekali. Tenggorokan pun terasa kering, bahkan mungkin badan mengalami dehidrasi.

 

Namun, saya tetap harus berangkat ke kampus University of Tasmania yang kebetulan berada di atas bukit. Saya mendapat tugas untuk memberi responsi atas presentasi dari seorang teman saya yang bernama Luke Stephenson untuk mata kuliah Asian Studies.

 

Mata kuliah itu diberikan melalui Video Link karena dosen pengajarnya berada di kota lain yaitu di Launceston. Saat itu, di kampus Hobart bersama saya ada 10 orang mahasiswa, dan di Launceston ada 5 orang bersama seorang dosen Dr. Marshal Clark, pengganti Prof. Barbara Hatley dosen yang selama ini mengajar saya.

 

Sebelum memulai presentasi dengan judul Media, Democratisation and anti-Porn Law Resistance in Indonesia Luke mengatakan bahwa presentasinya akan sangat bersifat offensive (baca: sinis) terhadap salah satu agama. Mendengar pernyataan itu, hati saya langsung berdebar-debar karena ada sedikit kekhawatiran bagaimana seandainya saya tidak sanggup mengatasinya karena saya tahu agama yang ia maksud adalah Islam.

 

Di awal presentasinya, dia banyak menayangkan gambar-gambar radikalisme Islam yang dilakukan oleh berbagai pihak di Tanah Air. Dia menggambarkan Islam sama dengan kekerasan, dengan gaya yang sangat sinis. Dapat dibayangkan, betapa hati saya pada saat itu sebagai satu-satunya orang Indonesia dan satu-satunya muslim di antara teman-teman sekelas, yang mendengarkan agamanya dipojokkan sedemikian rupa. Yang dapat saya lakukan pada saat itu, hanyalah menata hati dan pikiran saya. Pikiran saya harus mendengarkan secara rinci presentasi Luke. Saya bertekad untuk tetap menjaga sikap agar benar-benar mencerminkan seorang muslim yang jauh dari deskripsi dia. Dalam hati, saya berdoa agar mendapatkan kesempatan untuk menanggapi presentasi Luke. Saya ingin menjelaskan bahwa Islam adalah universal, pembawa kedamaian dan kesejukan, bukan seperti yang ia gambarkan.

 

Seusai Luke memberikan presentasinya, ia bertanya kepada audiens bahwa apakah ada yang beragama Islam di ruangan itu. Saya pun menunjuk tangan. Luke kelihatan sangat terkejut. Mungkin dia merasa tidak enak karena telah memojokkan Islam, padahal ada orang Islam yang duduk begitu dekat dengannya. Saya duduk tepat di sebelah kirinya.

 

Tidak lama kemudian, melalui video, Marshal memuji bahwa presentasi Luke sangat bagus. Ia mempersilakan murid yang bertugas merespon pada saat itu untuk segera menjalankan tugasnya. Ketika saya kembali menunjuk tangan dan menyadari bahwa sayalah satu-satunya yang akan merespon Luke (karena suatu hal, Nicole, teman saya yang juga bertugas merespon, tidak dapat hadir). Semua orang yang hadir di Hobart dan Launceston termasuk Marshal, tercengang. Luke juga terlihat terbelalak karena memang  tidak ada seorang pun yang mengira hal ini akan terjadi. Hanya Barbara yang mengetahui jadwal responsi, suatu kebetulan yang benar-benar terstruktur, Allahu Akbar!


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA