Minggu, H / 29 November 2020

Hidup Bergelimang Ujian

Jumat 28 Sep 2018 11:34 WIB

M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: google image

Oleh : M. Nurroziqi

ESQNews.id - Jika jelas tujuan yang hendak dicapai, maka segala kesulitan bukanlah rintangan yang memberati langkah. Melainkan, sekadar keasyikan yang mewarnai kanan-kiri jalan. Sekaligus, hendak menjadi saksi akan seberapa kukuh jalan yang harus ditempuh.


Sehingga, tetaplah fokus pada tujuan yang harus dicapai oleh sebuah perjalanan. Tentu, ketersesatan-ketersesatan, kebingungan, kadang juga ketidaktahuan, akan sesekali muncul. Bahkan, ada yang kelak dengan riuh memberi tepuk tangan akan diri yang sibuk menempuh, kadang juga akan ada yang mencaci, iri dengki, dan membodoh-bodohkan diri ini. Abaikan. Jangan pernah bergeming. Dan tetaplah melangkah. Mantabkan niat. Fokus pada tujuan.


Begitu pun dengan hidup. Darimana dan kemana, sudah jelas ditentukan arahnya. Yakni, semata Allah Swt. "Inna lillaahi, wa inna ilaihi rooji'un." Tentu saja, perjalanan yang ditempuh untuk sampai kesana tidak mulus begitu saja. Allah Swt dengan sangat sengaja "menggoda" manusia, menempatkan ini dan itu di pinggir-pinggir jalan hidup manusia untuk menguji keterpikatan hati. Kesemuanya, hanya untuk membuktikan siapa saja yang benar-benar fokus pada tujuan. IstiQamah menempuh jalan-Nya.


Berulangkali, Allah Swt mengingatkan akan setiap diri yang pasti akan diuji coba. Di antaranya, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Q.S. Al-Ankabut: 2-3). "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (Q.S. Al-Anbiya': 35). "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat." (Q.S. Al-Furqon: 20).


Baca juga : Belajar Besar dari Semut Kecil


Sedangkan, ujian dan cobaan yang disandingkan dalam setiap detail hidup manusia, akan terus ditinggikan tingkatannya. Seperti halnya ketika di sekolah. Tingkatan-tingkatan kelas, jelas menjadikan beda kualitas para siswa sekaligus bagaimana bentuk pelajaran dan jenis ujian yang diberikan. Hidup pun begitu. Jika satu ujian selesai, bukan berarti akan menurun jenis ujian yang diberikan. Tetapi, akan ditingkatkan dan terus ditingkatkan. Begitulah Allah Swt mendidik manusia. Supaya hanya kepada-Nya saja tujuan hidup dan segala harapan digantungkan. "Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian berikutnya dan berikutnya. Seseorang dicoba sesuai dengan (kadar) agamanya. Ketika dia tetap tegar, maka ditingkatkan cobaannya." (H.R. At-Tirmidzi).


Untuk itu, apa pun saja yang memikat hati, yang melenakan, dan menjadikan diri semakin jauh dari lajur yang semestinya ditempuh, tinggalkan. Dan segala fasilitas yang disiapkan-Nya untuk sampai pada-Nya pergunakan secara semestinya. Sarana ya sarana, fasilitas tetaplah harus sesuai fungsinya yang sekadar fasilitas. Tepatkan penggunaannya untuk kelancaran sampai kepada-Nya. Jangan malah merintangi diri, atau menutupi jalan sehingga buntu dalam ketersesatan yang abadi. Sebab, kalau sudah sibuk dengan kehidupan dunia, asyik dengan segala keindahan dan kenikmatan yang disajikan di dunia,  seringkali manusia lupa dengan tujuan utama untuk sampai kepada-Nya. Dan ketika manusia sudah mulai melenceng, lupa dengan tujuan utamanya hidup di dunia, pasti Allah Swt memberikan peringatan, menyampaikan tanda-tanda atas diri manusia itu. Tentu, supaya bisa segera kembali di jalan-Nya. Bisa segera bertaubat dan menempuh lagi jalan untuk sampai kepada-Nya.


"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Q.S. Ali Imron: 135). "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat." (Q.S. Hud: 20).


Jadi, yang harus dikejar adalah yang sudah menjadi tujuan utama hidup manusia. Allah Swt. "Fa firruu ilallah". Sehingga, jangan sampai hidup di dunia yang sementara ini, menjadikan diri hanya sibuk menuntut fasilitas, hanya menumpuk sarana, hanya fokus pada penguasaan kesenangan dan kenikmatan dunia, tanpa bisa menjadikannya sebagai sarana dan fasilitas yang tepat untuk memuluskan jalan sampai kepada-Nya.


“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 50-51)

 

M. Nurroziqi. Penulis buku-buku motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA