Rabu, H / 03 Juni 2020

Disiplin Menghargai Diri

Rabu 29 Aug 2018 12:46 WIB

M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: quora.com

ESQNews.id - "Demi kehormatan boleh miskin, Demi kehormatan. Demi keimanan boleh lapar, Demi keimanan. Jangan sampai dijual berapa pun harga diri ini. Jangan sampai ditukar dengan apa pun keimanan ini." Lagu "Harga Diri" karya raja dangdut Rhoma Irama ini mengandung peringatan mendalam atas diri seorang manusia. Inilah, kehebatan beliau, menjadikan dangdut sebagai sarana dakwah. Tidak seperti eksploitasi musik dangdut yang dewasa ini muncul, gersang, pesan moral keimanannya nyaris tidak ada.


Tetapi, tulisan ini tidak hendak membahas musik dangdut. Melainkan, sampai seberapa kuat kita ini menghargai diri sendiri. Dan, penghargaan tertinggi seorang manusia ada dalam kualitas keimanannya. Bagaimana tidak? Coba perhatikan, berapa banyak yang sudah terjerumus kepada pemuasan nafsu diri, khususnya di area perut dan yang di bawahnya, lantaran tipis iman. Keimanan digadaikan, dijual, hanya agar bisa makan. Iman, tidak lagi menjadi kontrol untuk menghargai diri. Takut tidak makan, takut miskin, sehingga apa pun saja ditempuh, biarpun bertentangan dengan keimanan.


Memang, awal dari segala wujud kesengsaraan itu adalah ketidak pandaian menjaga asupan nutrisi yang semula di proses dalam perut. Bahkan, jika kita ingat, Nabi Adam dan Siti Hawa, dihukum, dikeluarkan dari surga, lantaran ketidak sanggupan menahan diri untuk tidak makan buah khuldi. Buah yang berasal dari pohon terlarang. Terlepas ini bagian dari skenario Allah Swt dalam rangka menjadikan manusia sebagai khalifatullah fil ardhi, bahwa makanan adalah faktor yang tidak bisa diremehkan guna menjadikan diri manusia mulia. Hati-hati mengenai apa dan bagaimana cara mendapatkan sesuatu untuk dikonsumsi, tentu pelajaran yang bisa dipetik dari tragedi keluarkannya manusia pertama itu dari surga.


Dan, sebagai seorang beriman, oleh Allah Swt sudah diberikan rambu-rambu mengenai apa dan bagaimana sesuatu yang boleh dikonsumsi. "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (Q.S. Al-Baqarah: 168). Halal dan baik. Itu point pentingnya. Kualitas kehalalan, tidak hanya nilai sesuatu yang akan dikonsumsi. Tetapi, juga proses mendapatkannya harus benar-benar halal. Sebab, bagian ini, prosesnya bisa sangat panjang. Terkait pahala dan dosa.


Sedang, mengenai tingkat baiknya, bisa diukur sesuai kebutuhan tubuh yang mengkonsumsi. Karena, bisa jadi satu dengan yang lainnya berbeda. Yang ini, ukurannya adalah kesehatan masing-masing, yang tentunya bisa jadi tidak sama. Misalkan, kacang tanah itu halal, jika yang mengkonsumsi adalah mereka yang asam urat, jelas tidak baik. Daging kambing, halal, namun akan menjadi tidak baik jika dikonsumsi oleh yang memiliki keluhan darah tinggi. Dari itu, soal baik dan tidaknya makanan, relatif. Bergantung masing-masing pribadi.


Kemudian, jika mengenai kualitas makanan, baik dan tidaknya, jelas siapa pun akan memprioritaskan demi mendapatkan tubuh yang sehat. Bahkan, demi menjaga kebugaran tubuh, ada yang detail soal kombinasi nutrisi atas makanan yang hendak dikonsumsi. Semua ini, demi mendapatkan sehat jasmani. Tetapi, manusia, tidak semata badan fisik yang jasmani. Ada ruhani. Dan sisi ruhaniah inilah yang justru harus lebih dijaga. Sebab, kelak, tubuh yang ragawi akan kembali ke tanah ketika sudah meninggal. Sedang ruhaninya, akan terus hidup melintasi fase-fase berikutnya. Demi mempertanggung jawabkan setiap prilakunya di dunia. Dan, demi kesehatan, keselamatan yang lebih abadi inilah, pentingnya menjaga kehalalan atas apa-apa yang dikonsumsi, segala apa yang akan dimasukkan di dalam diri.


Namun, lagi-lagi, manusia seringkali lemah. Tidak kuat uji dan godaan. Sehingga, iman terbengkalai. Jika kita mengamati, soal tingginya angka korupsi di negeri ini, bisa dipastikan tidak disiplinnya di dalam menghargai diri dengan keimanan yang kuat. Hasilnya, dipermalukan oleh ulahnya sendiri. Ini di dunia, sudah menanggung derita. Sedang di akhirat, siksa akan lebih dahsyat. Dan, lebih kasihan lagi adalah keluarga, anak dan istri, bahkan kerabat dan teman yang diberikan sesuatu yang haram. Na'udzubillah.


Dari itu, berbekal iman yang kuat, seseorang sanggup berdisiplin. Menghargai diri sejak dari soal makanan. Harus yang halal dan baik. Sebab ada, yang meremehkan hal-hal kecil, yang menurutnya akan dimaafkan Allah Swt. Sebagaimana dosa-dosa kecil yang segera bersih ketika beristighfar. Bukankah kesalahan kecil yang biasa dibiarkan akan segera membesar menjadi kebiasaan? Sehingga bernilai dosa besar? Ada, yang sejak semula berada di lingkaran syetan. Di sekelilingnya diliputi aktivitas-aktivitas haram, kebiasaan-kebiasaan yang jauh dari halal. Sehingga, menjadikannya tidak bisa tidak, harus ikut arus. Hidup dengan riba, misalnya, atau tradisi sogok menyogok dalam pekerjaan, atau manipulasi-manipulasi penuh kecurangan lainnya. Lantas, merasa tidak berdaya, tidak mudah untuk melenggang bebas, dijadikan alasan untuk tetap berkubang "lumpur kotor" itu. Semua ini, adalah tanda lemahnya iman. Ketidak berdayaan itu, sejatinya hanya memuncaknya rasa takut akan derita. Takut tidak makan, takut miskin.


Bermula dari ketakutan-ketakutan tidak "berhasil" soal dunia itulah, yang menjadikan hilangnya iman. Sehingga, segala dosa akan terbiasa dijalankan. Asal makan kenyang, hidup mewah, jabatan mentereng, biar pun laku dosa yang dibiasakan, tidak mengapa. Padahal, Allah Swt sudah memperingatkan manusia supaya bersabar atas ujian-Nya. "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Q.S. Al-Baqarah: 155).


Mari, menghargai diri dengan hiasan iman yang istiqamah. Yang dihempas apa pun saja godaan dan ujian dunia, akan menjadikan diri tetap kuat di jalan dan aturan-Nya.


M. Nurroziqi. Penulis buku-buku motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA