Jumat, H / 23 Agustus 2019

Di Bawah Mantel Hadrami

Jumat 22 Feb 2019 14:39 WIB

Author :Ary Ginanjar Agustian

ilustrasi

Foto: mozaik

Oleh : Ary Ginanjar Agustian


ESQNews.id - Tanda-tanda orang yang budiman ialah dia akan merasa gembira jika dapat berbuat kebaikan kepada orang lain, dan dia akan merasa malu jika menerima kebaikan dari orang lain. (Anonim)



Matahari mulai tergelincir di balik cakrawala. Terang secara perlahan bertukar temaram, lalu gulita malam pun melingkupi tanah Makkah. Sekelompok pemuda pilihan dengan senjata lengkap mendatangi kediaman Nabi Muhammad. Rombongan itu dipimpin Khalid bin Walid seorang pemuda yang terkenal kecakapannya dalam berperang. Di belakang para pemuda itu, seratus orang kepala kabilah Quraisy mengiringi. Mereka berbagi tugas, menyebar, dan mengepung rapat rumah lelaki yang selama ini diincar dari berbagai arah.



Tak ada celah yang tersisa karena puluhan pedang tajam yang bagaikan pagar sudah siap menebasnya. Sejak tahu bahwa kaum muslimin secara berangsur hijrah ke Yatsrib, maka kaum musyrikin Quraisy sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain untuk menghentikan ajaran ini kecuali dengan membinasakan laki-laki bernama Muhammad.



Di dalam rumah yang sudah dikepung itu, Nabi Muhammad dengan suara perlahan meminta seorang pemuda belia, Ali bin Abi Thalib, untuk tidur di tempat tidurnya mengecoh pengepung. “Tidurlah di tempat tidurku dan pakailah mantel hadramiku!” kata lelaki itu. “Engkau akan tetap aman dari gangguan mereka, ujar Nabi Muhammad menenangkan.



Tentu saja suasana saat itu cukup mencekam. Namun, pemuda itu mengangguk taat, tak tampak rasa gentar di guratan wajahnya. Ia kenakan mantel hadrami berwarna hijau itu, kemudian berbaring dengan tenang di tempat tidur Nabi Muhammad. Ia melakukan tugasnya dengan penuh rasa tanggungjawab, meski di luar rumah seratus pedang terhunus siap menumpahkan darah.



Tengah malam, Nabi Muhammad pun diam-diam keluar rumah tanpa diketahui satu orang pun, menuju rumah Abu Bakar. Perjalanan Hijrah akan dimulai.



Pemuda Quraisy yang bersiap siaga itu mengintip rumah tersebut dari sebuah celah. Tampak sesosok tubuh berbaring di tempat tidur. Mereka senang, mengira Nabi Muhammad masih belum meninggalkan rumahnya. Mereka tetap menunggu di luar rumah. Mereka berharap saat Muhammad akan meninggalkan rumah, mereka akan menebas lehernya.



Saat matahari mulai terbit; orang-orang musyrik tak melihat seorang pun ke luar dari rumah itu. Mereka pun berusaha masuk rumah Nabi sambil menghunuskan pedang untuk membunuh orang yang sedang tidur. Namun mereka kecewa karena yang mereka jumpai adalah Ali yang tengah berbaring di atas tempat tidur Nabi SAW. Mereka pun segera pergi meninggalkan rumah tersebut.



Ali yang masih muda belia tiada merasa gentar mengecoh musuh, meskipun nyawa yang menjadi taruhannya. Demikianlah teladan tanggungjawab seorang sahabat pada pimpinannya.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA