Minggu, H / 09 Agustus 2020

Cerdas Bermedia Sosial

Senin 03 Sep 2018 15:53 WIB

M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: shutterstock

Oleh : M. Nurroziqi

ESQNews.id - Di dalam diri manusia, terdapat hati. Jika itu baik, maka baiklah seluruh diri. Jika tidak, maka buruklah diri itu. Begitu pun dengan segala yang ada di luar diri manusia, tentu saja bergantung baik dan tidaknya manusia itu sendiri. Alam dengan seluruh isinya ini netral. Menjadi bermanfaat atau malah penuh kemadhorotan, manusialah yang menentukan.


Demikian juga dengan pesatnya kemajuan teknologi di masa kini. Pastinya, sejak awal dirancang demi memudahkan aktivitas hidup manusia. Sehingga, setiap pesatnya arus modernisasi, khususnya di bidang teknologi atau lebih khusus lagi media social, harusnya diimbangi dengan kedewasaan diri, serta kepandaian di dalam mengendalikannya. Manusia, harus jadi pengendalinya. Bukan malah dikendalikan oleh itu semua.


Soal media social, cenderung, kemesraan social yang di kehidupan nyata malah terenggut. Asyik dan fokus dengan media social, kadang sampai teman yang ada di samping terabaikan. Ini baru teman. Belum ketika di tengah-tengah keluarga. Seseorang yang aktivitasnya terpenjara oleh media itu, perlahan kehilangan perhatian terhadap anak-anak dan pasangan. Dampak inilah yang musti dihindari. Dari sini, manusia harus benar-benar bisa menjadi pengendali. Mengatur semua sedisiplin mungkin. Membuka media social hanya di saat-saat tertentu. Di luar aktivitas pasti untuk keluarga, lebih-lebih anak-anak dan pasangan. Sehingga, mereka merasa diperhatikan dan disayangi. Bahkan, sampai pada hal kecil, ketika berbincang dengan seseorang, letakkan, dan fokuslah dengan lawan bicara. Ini, bagian dari cara menghormati dan  menghargai. Sebab ada, seseorang ketika diajak bicara, malah sibuk sendiri dengan HP di tangannya. Sedang lawan bicara tidak ditanggapi dan diperhatikan secara baik. Lagi-lagi, harus benar-benar berdisiplin dalam menggunakan.


Selain itu, harus juga berlandaskan azas manfaat. Jangan sampai hanya buang-buang waktu dengan mengerjakan sesuatu yang tidak jelas. Harus bernilai manfaat dan menghasilkan kebaikan. Begitu seharusnya media canggihnya teknologi digunakan.


Namun, seiring berjalannya waktu, ada saja yang menyalah gunakannya untuk kepentingan pribadi yang berdampak merugikan banyak orang. Inilah, lumrahnya hidup di dunia. Selalu ada yang baik, sekaligus juga ada yang tidak baik. Dan, dalam bermedia social yang saat ini sangat digemari, bahkan seakan sudah menjadi candu bagi setiap orang di semua usia dan kalangan, benar, banyak sekali manfaat yang didapatkan. Namun, tidak jarang adanya pihak-pihak tertentu yang justru menggunakannya untuk aktivitas negatif, merugikan banyak orang. Dan aktivitas negatif yang seringkali muncul, dan seringkali menyulut pertikaian, mengobarkan api kebencian, adalah berita bohong, tidak bisa pertanggung jawabkan, atau hoax.


Hampir setiap detik kita menyaksikan sharing hoax di media social. Jika setiap diri tidak pandai-pandai menyaring informasi, maka gampang saja akan termakan oleh kebohongan-kebohongan yang di-share-kan. Untuk itu, penting sekali kita berhati-hati ketika berselancar di media social. Dan demi menjaga diri agar tidak gampang termakan berita hoax itu, maka pentinglah bagi kita untuk seketat mungkin bersikap dengan dua hal. Yaitu, membaca dengan cermat dan jujur dalam bersikap.


Pertama, membaca yang cermat. Maaf. Saya tidak sedang mengajak berprasangka buruk terhadap segala hal yang sudah dibaca. Tetapi, agar membaca lebih banyak lagi, membaca lebih serius lagi. Sekilas, kadangkala kehati-hatian itu mirip dengan prasangka buruk. Sebagaimana juga sikap pelit yang hampir diserupakan hemat.

 

Ketika membaca sesuatu hal. Sebuah berita misalnya, jangan langsung percaya begitu saja. Apalagi, akhir-akhir ini banyak sekali berita bohong. Jadi, sangat penting untuk menggali informasi yang jauh lebih valid lagi. Bacalah dengan teliti.


Demikian juga pembacaan atas pendapat, karya, atau tulisan seseorang. Jangan lantas ditelan mentah-mentah. Banyak sekali hal yang masih harus disaring. Dibandingkan dengan yang lain. Terus digali secara obyektif. Mungkin, begitulah cara sederhana menemukan kebenaran.


Bahkan, ketika kita memandang sesuatu hal. Jangan lantas percaya begitu saja atas apa yang nampak. Selami lebih dalam setiap hal itu, demi menemukan kesejatian. Toh pada dasarnya di dunia ini, segala hal sudah sampai pada ketidak pastian. Yang berkopyah pun tidak selalu ramah. Sebagaimana seorang bertato yang tidak pasti suka ngaco.


Sekali lagi. Membacalah yang serius. Tuntas. Membaca lebih banyak lagi. Membaca yang jauh lebih cermat lagi. Dengan demikian, pikiran menjadi luas, hati mensamudera. Tidak gampang marah. Tidak spontan menghakimi.


Jangan celometan dulu. Diam. Lantas, bacalah yang serius, yang cermat dan mendalam segala apa yang di depan mata. Begitulah jalan kearifan.

Kedua, jujur dalam Bersikap. Membaca adalah langkah awal untuk mengisi pikiran dengan beragam pengetahuan dan informasi. Tentu, setelah itu diungkapkan melalui berbagai media yang ada. Apa pun yang diungkapkan nanti, sudah semestinya memiliki tingkat obyektivitas yang tinggi sebagaimana ketika menggali informasi atau pengetahuan melalui kejelian dan kecermatan membaca yang sudah dilalui. Hal ini, jika dalam bahasa agama disebut kejujuran.


"Katakanlah yang benar meskipun itu sangat pahit" (Qulil haq walau kaana murron) adalah pesan mendalam dari Rasulullah Saw akan betapa pentingnya bersikap jujur. Jujur menjadi mahkota yang menunjukkan kualitas dan harga diri manusia.


Dan akhir-akhir ini, sudah umum kita mengetahui bahwa kerapkali apa yang disampaikan dan diungkap oleh seseorang itu sama sekali tidak didasari kejujuran itu. Adanya berita hoax, adanya fitnah, berita-berita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, adalah tentu muncul dari orang-orang yang tidak memiliki sikap jujur sama sekali. Lebih-lebih, semua yang disampaikan itu terkait dengan kepentingan salah satu pihak, atau demi keuntungan pribadi, penyampaian yang tidak baik itu malah menjadi-jadi. Satu kebohongan yang disampaikan, misalnya, maka tidak langsung diklarifikasi jika toh memang itu sebuah kebohongan. Tetapi, dicounter dengan kebohongan-kebohongan yang baru. Begitu terus. Sehingga sikap jujur, akhir-akhir ini menjadi sangatlah langka.


Dengan demikian, jika masing-masing kita mau menjaga diri dengan dua sikap tadi, membaca yang cermat dan jujur dalam bersikap, maka diri akan terbentengi dari hal-hal buruk yang ada di media social, dan masing-masing kita akan lebih bisa mengambil manfaat darinya. Semoga.

 

* M. Nurroziqi. Penulis buku “Sabar Tanpa Batas”. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA