Minggu, H / 05 April 2020

Cara Bicara yang Penuh Makna (2)

Jumat 07 Feb 2020 07:17 WIB

Author :Ida S. Widayanti

Ilustrasi

Foto: bbc.com

Mendidik Karakter dengan Karakter

Oleh: Ida S. Widayanti


ESQNews.id, JAKARTA - Pada kisah pertama, tanpa disadari si ayah sering menggunakan kata insya Allah ketika ia berjanji untuk hal yang tidak pasti atau kecil kemungkinannya untuk bisa dilaksanakan. Sehingga otak anak mencatat bahwa kata insya Allah berarti tidak ada kepastian.


Pada kisah kedua, si ibu tidak menyadari bahwa saat ia mengatakan ’mari kita pergi sekarang’, sering kali tidak segera berangkat. Masih banyak hal yang harus ia lakukan, seperti menyiapkan barang-barang yang akan dibawa, pintu yang belum dikunci, atau kerudung yang masih harus dirapikan.


Akhirnya, persepsi yang muncul di benak anak bahwa ’sekarang’ adalah rentang waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, orangtua harus berhati-hati saat berbicara dengan anak. Pastikan kata yang digunakan sesuai maknanya dengan yang dimaksudkan.


<more>


Dengan demikian, anak-anak akan senantiasa percaya pada kata-kata ibunya. Membangun makna kata dan kalimat pada anak dilakukan sejak bayi lahir bahkan sebaiknya dilakukan sejak janin dalam kandungan dengan cara menceritakan apa-apa yang sedang dilakukannya secara akurat.


Jika ibu senantiasa ’mengatakan apa yang dilakukan’ atau ’melakukan apa yang dikatakan’, anak akan belajar untuk selalu sesuai antara kata dan perbuatan. Memang tidak mudah, selalu ada rintangan untuk menyelaraskan tindakan dengan perkataan.


Namun, kita harus senantiasa berusaha karena hal itulah yang senantiasa diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam sehingga beliau mendapat gelar Al-Amin, ’yang terpercaya’.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA