Jumat, H / 23 Agustus 2019

Berkaca dari Sang Penakluk

Selasa 30 Oct 2018 15:00 WIB

Singgih Wiryono

Muhammad Al Fatih

Foto: Islamedia


 “Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin dan tentaranya sebaik-baik tentara.” (Al Hadits)


Sultan Muhammad II, atau yang lebih dikenal dengan Sultan Muhamad Al Fatih adalah nama yang melegenda di kalangan umat Islam. Menjadi raja yang paling dikenal di masa kejayaan kekhalifahan Utsmani. Al Fatih berjasa merebut kekuasaan kerajaan Bizantium atau Romawi Timur di Kota Konstantinopel. Bayangkan kehebatan Romawi itu mungkin lebih hebat dari saat ini Amerika, kekuatan yang sangat digdaya. 



Konstantinopel dalam catatan sejarahnya sendiri memiliki keperkasaan yang melegenda. Rantai besi dengan kobaran api melingkari kota megah tersebut. Menjadikan salah satu kota yang sekarang bernama Istanbul itu menjadi benteng terkuat pada masanya.


Sebab itulah, di zaman Rasulullah SAW banyak yang menyangsikan umat Islam bisa menembus benteng kokoh mengerikan milik kerajaan Romawi. Saat itu umat Islam dipandang bukan tandingan Bangsa Romawi yang sudah hampir mendunia kekuasaannya.


Kisahnya bermula sesungguhnya ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan sebuah bisyarah, sebuah kalimat yang memberi inspirasi yang membangun keyakinan (believe system) kepada siapa yang mendengarkannya. Nabi Muhammad SAW, bersabda,  bahwa kelak akan ada seorang pemimpin dari kalangan umatnya, yang mampu menembus dan menjadi penguasa di kota tersebut, dia adalah sebaik-baiknya pemimpin, dan pasukannya adalah sebaik-baiknya pasukan.


Mendengar sabda tersebut, tidak sedikit dari sahabat nabi mencoba menaklukkan Konstantinopel, salah satunya adalah Abu Ayyub al Anshari Radhiallahu ‘anhu yaitu seorang yang dimana rumahnya didatangi oleh unta ketika Nabi Muhammad SAW datang ke kota suci Madinah dan rumahnya yang dipilih untuk menjadi masjid. Dan beliau sendiri bersama dengan pasukannya datang mencoba untuk menaklukkan Konstantinopel, namun wafat saat mencoba melakukan penyerangan.


Delapan abad setelah sabda nabi SAW, terlahirlah seorang muslim yang kelak menjadi sang penakluk dari keturunan Sultan Murad II kekhalifahan Utsmani. Kelahiran Sultan Muhammad Al Fatih menjadi titik terang kebangkitan Islam dan masa keemasan penyebaran Islam di seluruh dunia, termasuk Eropa dan Asia.


Ada satu kisah menarik yang menjadikan Al Fatih dijuluki pempimpin sebaik-baiknya pemimpin. Dalam suatu riwayat, setelah menaklukkan Konstantinopel, Al Fatih bersama jutaan pasukannya hendak melakukan shalat Jumat pertama di kota yang mereka taklukkan itu.


Al Fatih bertanya, siapa diantara pasukannya akan menjadi imam shalat Jumat saat itu. Lautan manusia berdiri tetap bergeming, tak ada yang bergerak dari pertanyaan Al Fatih.


Kemudian Al Fatih bertanya kembali “Siapa diantara kalian di waktu baligh hingga saat ini pernah meninggalkan shalat wajib barang satu kali? Silakan duduk!”


Mendengar pertanyaan Al Fatih, tidak seorang pun dari pasukannya yang duduk. Subhanallah, seluruh pasukan yang dia pimpin tak satupun pernah meninggalkan shalat wajib.


Merasa kriteria untuk mengimami shalat Jumat masih belum terseleksi, Al Fatih kembali bertanya “Siapa diantara kalian sedari memasuki usia baligh belum pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib walaupun satu kali, silakan tetap berdiri!”


Beberapa jamaah kemudian turun, sebagian yang lain masih berdiri. Beberapa yang berdiri memperlihatkan kualitas pasukan penakluk konstantinopel yang benar-benar menjaga komunikasi dengan Sang Pencipta, Allah Aza wa Jalla.


Karena masih banyaknya yang berdiri, akhirnya Al Fatih kembali bertanya “Siapa diantara kalian yang masih berdiri, sedari baligh hingga saat ini tidak pernah melewatkan qiamul lail, mendirikan tahajjud di kesunyian malam. Bagi yang pernah kosong satu malam saja, silakan duduk.”


Pemandangan yang menakjubkan pun tercipta. Tidak ada satupun kecuali Al Fatih yang berdiri di antara jutaan pasukan itu. Itulah mengapa Al Fatih pantas dijuluki sebaik-baik pemimpin.


Jika kita berkaca dari Al Fatih. Saat dirinya sudah memasuki usia baligh kurang lebih antara 12 sampai dengan 14 tahun. Al Fatih tak pernah sekali pun meninggalkan tahajudnya di keheningan malam hingga di usianya ke 21 saat menaklukkan konstantinopel.


Dimanakah kita saat usia 12-14 tahun di saat keheningan malam? Renungan untuk kita semua ketika kita menginginkan kejayaan Islam kembali, tetapi kita masih asyik dengan selimut dan guling di sepertiga malam.


Akankah terulang penaklukan umat Islam dengan dominasi bangsa barat, jika umat Islam tidak bisa berkaca dan mengambil hikmah dari apa yang dilakukan Al Fatih dan pasukannya yang menaklukkan Konstantinopel.



Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA