Jumat, H / 24 Januari 2020

Belajar Meredam Hati

Rabu 12 Dec 2018 11:00 WIB

Author :M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: dok. Ist

ESQNews.id - Pernah mendengar kisah mengenai Rasulullah SAW yang hijrah ke Thaif dengan salah seorang sahabat beliau. Di sana, bukan sambutan penuh kemesraan yang diterima. Tetapi, penolakan, pengusiran, bahkan penganiayaan. Saking menderitanya Rasulullah Saw sebab perlakuan penduduk Thaif kala itu, sampai-sampai Malaikat turun menawarkan bantuan. Hendak diangkatkannya sebuah gunung, lantas ditimpakan kepada penduduk Thaif sebagai balasan atas kesewenang-wenangannya terhadap Rasulullah Saw. Tetapi, Rasulullah SAW menolak bantuan itu. "Jika tidak hari ini mereka beriman, semoga anak cucu mereka kelak yang akan masuk Islam", begitu ujar Rasulullah Saw yang lantas mendoakan umat Rasulullah itu dengan penuh kasih sayang, "Allahummahdi qoumii fa innahum laa ya'lamuun."


Atau, masihkah ingat dengan cerita tentang seorang yang setiap kali Rasulullah Saw melintasi rumahnya? Orang ini melempari Rasulullah SAW dengan kotoran, tidak jarang juga meludahi Rasulullah SAW. Begitu terus, tidak bosan-bosannya. Dan Rasulullah SAW pun tidak pernah ada rasa ingin membalas sama sekali. Hingga suatu waktu, orang ini tidak nampak lagi. Begitu Rasulullah Saw melintasi rumahnya, tidak ada lagi orang ini melakukan kebiasaannya. Setelah ditanyakan kepada para tetangganya, ternyata orang ini sedang sakit. Dan Rasulullah SAW pun bergegas menjenguknya, mendoakan untuk kesembuhannya. Tidak ada dendam, sama sekali tidak ada keinginan untuk membalas. Justru penuh kasih menghampiri. Begitu tulus menyambung silaturrahim.


Dan mungkin, pernah membaca kisah seorang pengemis buta di pasar Madinah, yang dari lisannya hanya keluar cacian kepada Rasulullah SAW, fitnah, juga beragam umpatan. Tetapi, Rasulullah-lah yang setiap pagi menyuapi pengemis buta ini dengan tangan Rasulullah sendiri. Atas segala kata-kata kotor dari lisan pengemis buta ini, Rasulullah SAW tidak sakit hati sama sekali. Dan beliau begitu lembut, dengan kasih sayang menyuapi perlahan penuh kehati-hatian.


Kisah-kisah tadi, hanya tetesan percik sangat kecil dari samudera akhlak Rasulullah SAW. Jiwa pemaaf Rasululullah tiada bandingnya. Betapa rasa kasih sayang atas umat Rasulullah tiada duanya. Dan sikap yang demikian inilah di antara kunci kesuksesan Rasulullah dalam berdakwah. Coba, seandainya sikap yang diambil atas prilaku umat Rasulullah yang kurang ajar itu sebagaimana yang diminta Nabi Nuh As, banjir bah yang dahsyat. Atau, seperti halnya Nabi Luth dengan hujan batu atas para umatnya. Tidak. Rasulullah Saw begitu tulus menyayangi kita semua.


Allahumma sholli wa sallim 'alaa saidinaa Muhammad.


Dan sayangnya, gampang memaafkan, penuh kasih sayang terhadap sesama hidup ini, yang tidak kunjung kita teladani dari Rasulullah SAW. Mudah bertengkar, saling adu cacian dan makian, gemar menyakiti, adalah sikap-sikap yang semakin marak terbiasakan. Sebab, tidak lagi ada rasa kasih sayang di dalam dada, tidak adanya jiwa pemaaf di masing-masing diri kita. Bahkan, silang sengkarut pertikaian yang terus saja muncul di antara kita, tentulah sebab hilangnya rasa maaf dan kasih sayang dari hati masing-masing kita.


Sedikit-sedikit tersinggung. Sebentar-sebentar marah. Sulit tersenyum. Gampang sekali menebar benci dan dendam. Itu yang banyak dialami diri akhir-akhir ini. Ketidakpandaian meredam hati dan menguasai diri. Itulah tanda ciutnya hati. Hasilnya? Pasti tahu sendiri. Sebab, sesungguhnya kita sudah tidak perlu dinasehati. Hanya mau atau tidak untuk memperbaiki diri. Itu saja. Semakin banyak 'kan yang memegang pengeras suara untuk menasehati, menceramahi, mem-pidato-i? Semakin marak dan semakin sering. Tetapi, semua tidak sebanding dengan perubahan-perubahan yang mustinya terjadi di masing-masing diri.


Sampai kapan mau membelenggu diri sendiri dalam ciutnya hati? Toh, semakin hari, jatah hidup di dunia ini semakin berkurang sedikit demi sedikit.

Pernah, suatu ketika seseorang melontarkan cacimakian kepada Saidina Abu Bakar. Sedang, kala itu Rasulullah SAW duduk di sampingnya. Dan, Rasulullah diam, maka Saidina Abu Bakar pun diam.


Ketika orang itu telah selesai dari makiannya, lantas Saidina Abu Bakar angkat bicara. Akan tetapi, Rasulullah SAW bergegas bangun dari duduknya dan pergi. Maka, mendekatlah Saidina Abu Bakar kepada Rasulullah dan bertanya, "Wahai Rasul, mengapa ketika aku dicaci olehnya engkau diam? Dan ketika aku akan membalasnya, engkau pergi?"


Jawab Rasulullah SAW, "sesungguhnya ketika aku dan kamu diam, malaikat telah melempar makiannya itu kepada dirinya. Akan tetapi, ketika kamu mengangkat bicara (membalasnya), maka pergilah malaikat dan duduklah setan."


Kemudian bersabda Rasulullah SAW, "terdapat tiga perkara yang semua itu adalah hak. Pertama, tiada seorang yang memaafkan orang yang menganiaya dirinya, karena mengharap ridha Allah Saw, melainkan akan diberikan kemuliaan yang berlipat kepadanya. Kedua, tiada seseorang yang mengumpulkan kekayaan dengan cara meminta-minta, melainkan akan ditambah kemiskinannya. Dan ketiga, tiada seorang yang memberi dengan ikhlas, melainkan akan ditambah rezekinya lebih banyak."


Mari belajar melapangkan dada. Menanggapi siapa pun dan apa pun dengan penuh kasih nan sayang. Serta rendahkan hati untuk gemar memaafkan dan ringan meminta maaf. Semoga kita semua diaku umat Beliau.

Allahumma sholli wa sallim 'alaa saidinaa Muhammad.

 

*M. Nurroziqi. Penulis buku-buku motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA