Rabu, H / 24 Oktober 2018

Bangga Menjadi Ustadz?

Senin 24 Sep 2018 11:34 WIB

Rep:M. Nurroziqi/Ed:Titin Nuryani L Wiyono

ilustrasi

Foto: google images

ESQNews.id - Panggilan ustadz, kini sudah menjadi trend di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan, bisa dikatakan semakin ngetrend dibanding sebutan-sebutan yang merujuk pada kualitas seseorang di bidang keagamaan. Ustadz, sebagaimana artinya yang "guru", mulanya dijadikan panggilan seorang murid kepada guru di lingkup dunia pendidikan. Ada hubungan sistematis tak terpisahkan, yakni proses belajar mengajar atau transfer ilmu dalam sebuah lembaga. Tetapi, panggilan ustadz sudah menyeruak dengan makna yang jauh lebih luas. Tidak harus seorang guru yang pasti memiliki murid. Tidak harus juga aktif mengajar di sebuah lembaga. Panggilan ustadz gampang saja disematkan atas diri seseorang yang berpenampilan agamis.


Namun, dalam perkembangannya, kerapkali istilah ustadz ditempatkan pada posisi-posisi yang kurang tepat. Dipakai untuk "mengangkat" diri supaya memiliki banyak pengikut. Padahal, kadang sama sekali tidak didukung dengan kualitas pribadi. Parahnya, dalam dunia politisi, ustadz ini justru dimanfaatkan untuk mendulang suara. Ditempatkan di pos-pos tertentu demi meraup massa yang banyak. Dan, ustadz-ustadz yang sudah berkecimpung di dunia yang demikian, akan berdampak sangat buruk. Baik bagi yang dipanggil ustadz atau pun yang dengan setia menjadi pengikut. Kenapa? Sebab, orientasinya sudah melenceng jauh dari upaya transfer ilmu antara guru dan murid.


Jadi, sebagai masyarakat awam, haruslah sangat berhati-hati dengan panggilan ustadz. Jangan gampang terpesona dan senang mengidolakan seseorang dengan sebutan ustadz. Pastikan dulu keilmuannya. Perhatikan dulu akhlaknya. Jangan asal ustadz diikuti. Sebab, akhir-akhir ini banyak sekali bertebaran seseorang yang pakaiannya agamis, kemana-mana dipanggil ustadz. Tetapi, tutur katanya dipenuhi caci maki, gemar mengkafirkan hanya berbekal beberapa dalil agama. Tidak memiliki ketinggian akhlak untuk menebar kedamaian dan kebahagiaan.


Terlepas dari itu, bagi yang sedemikian  bangga dengan panggilan ustadz, dijadikan panutan bagi seluruh lapisan masyarakat. Maka, perlu sekali mengingat kisah ketika Rasulullah Saw meminta bantuan kepada para sahabat. Sahabat beliau Saw pun kaget. Lantas, serta merta mengiyakan sekaligus menanyakan bantuan dalam hal apa. "Perbanyak ibadah kalian. Perbanyak ibadah kalian." Begitu permintaan bantuan itu disampaikan. "Perbanyak ibadah kalian. Supaya kelak, tidak berat bagi saya mengajak kalian ke surga."


Baca juga : Selalu Saya Kagum


Dan, pernahkah terpikirkan oleh kita, kenapa kita musti mendoakan beliau Saw? Bahkan menjadi sebentuk kewajiban yang terprogram rapi dalam rupa bersholawat di dalam shalat. Padahal, sebagai manusia paling paripurna dan paling dicintai Allah Swt, Rasulullah Saw sudah pasti masuk surga.


Tetapi, sebagai seorang rasul, beliau Saw menanggung beban berat, yakni keharusan memastikan seluruh umat beliau Saw masuk surga. Makanya, dalam keadaan apa pun, senantiasa yang dikhawatirkan adalah umat dan hanya umat beliau Saw. Jangan sampai ada yang terperosok pedihnya neraka. Supaya mudah proses masuknya ke surga. Dalam beban sangat berat itu, kita yang sudah berani mendaku sebagai umat beliau Saw, sudah seharusnya mendoakan, sekaligus menjaga diri sebaik-baiknya agar senantiasa istikamah pada setiap ajaran yang telah diteladankan beliau Saw. Allohumma sholli 'alaa saidinaa Muhammad.


Hampir serupa itu, ustadz atau guru pun berada di posisi yang sama. Biar pun dalam kapasitas yang sangat jauh berbeda. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa ustadz itu sedang dalam cobaan yang tidak mudah. Yakni, berkewajiban memastikan siapa pun saja yang sudah pernah belajar kepadanya, agar selamat masuk di surga-Nya. Dijelaskan pula, jika Rasulullah Saw diijinkan masuk ke surga terlebih dahulu mendahului umat. Tetapi, tidak dengan ustadz. Kecuali, jika seluruh muridnya sudah berada di dalam surga.


Dalam beban berat yang sangat tidak mudah itu, ustadz juga memerlukan bantuan. Di antaranya, doa murid-muridnya. Dan, yang terpenting adalah kebaikan prilaku, sehingga kelak gampang masuk surga semua. Dengan demikian, ustadz juga akan mudah mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan di alam "sana".


Baca juga : Mengurai Makna Komunikasi dalam Kehidupan Keluarga


Demikian itulah tanggung jawab besar menjadi seorang ustadz. Sehingga, urusan mereka tidak hanya mengantarkan murid-muridnya lulus ujian. Mumpuni dalam ilmu tertentu. Selesai. Tidak. Tidak cukup berhenti di situ. Namun, tanggung jawab itu sampai di akhirat sana. Jadi, sungguh beruntung ustadz yang hanya mengajarkan kebenaran, menjadi teladan kebaikan, kemana-mana menebar perdamaian, dan sanggup membentuk pribadi-pribadi mulia.


Seandainya, banyak yang memahami betapa tidak ringan beban menjadi ustadz, tentu akan sangat sedikit sekali yang mau menjalani hidupnya dengan menjadi ustadz. Akan sangat jarang sekali hidup dipanggil ustadz dengan sekian banyak pengikut. Serta, tidak akan pernah ada orang yang sampai berani menghalalkan segala cara demi bisa menjalani profesi atau supaya dipuji-puji dengan panggilan ustadz.


Tetapi, kenyataannya, panggilan ustadz sudah menjadi kebanggaan dan berkelas. Lebih-lebih terdapat kecenderungan diri yang sangat bangga memiliki pengikut. Meski, seringkali, yang demikian ini tidak didukung dengan kualitas pribadi yang mumpuni, baik keilmuan mau pun akhlak. Naudzubillah.


M. Nurroziqi. Penulis buku-buku motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu diterbitkan di ESQNews.id? Kirim tulisan ke email redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA