Senin, H / 28 September 2020

Bagaimana Lailatul Qadar merubah Brain State dan Hidup Seseorang

Kamis 07 Jun 2018 14:28 WIB

Gina Al ilmi S.Psi

Mekanisme Kerja Otak

Foto: nymag.com

MENARA 165 - JAKARTA.  DR (HC) Ary Ginanjar Agustian, dalam Kultum bada shalat Dzuhur hari Kamis, 7 Juni 2018, di Masjid Ar Rohim di puncak Menara 165, Cilandak - Jakarta Selatan, menyampaikan bahwa kini umat muslim memasuki fase Final Ramadhan. Dimana kini sudah menginjak hari ke 20. Hal ini bila diibaratkan sebagai pertandingan sepakbola. Sebelumnya kita sudah melewati babak penyisihan dan babak semi final di waktu awal dan tengah. Kini kita semua tengah berlomba untuk memperoleh Medali Emas Lailatul Qadar, Medali Perak keselamatan dari Api Neraka, dan Medali Perunggunya berupa ampunan (maghfirah dan rahmat) dari Allah untuk dosa-dosanya.

 

Peraihan medali emas ini, akan nampak dari perilaku seseorang yang berubah secara drastis menjadi jauh lebih baik dan konsisten beribadah dan baik dalam bermuamalah, dibanding dengan sebelumnya. Jadi, DR Ary Ginanjar Agustian menekankan bahwa, seseorang tidak dapat mengatakan bila ia telah meraih Lailatul Qadar dengan mengatakan bahwa pepohonan merunduk padanya, tanpa adanya perubahan yang konsisten tersebut.

 

DR Ary Ginanjar, yang telah mendalami bidang Spiritual Quotient sejak 30 tahun yang lalu, menyampaikan bahwa perubahan Lailatul Qadar dapat secara total merubah pola perilaku seseorang, karena pengaruh quantum field yang merubah lobus frontalis di otak. Lobus frontalis adalah rumah bagi pemikiran seseorang. Terletak di belakang mata, dan berperan dalam mengintegrasikan pemikiran dan membentuk pola pikir dan perilaku seseorang.

 

Sementara, pusat kecerdasan spiritual, yang aktif saat kita mendengarkan ceramah agama, dan melakukan aktivitas seperti berdzikir (menyebut nama suci Tuhan), beribadah (bermeditasi), terletak pada Lobus Temporal, menurut hasil temuan dari VS Ramachandran (1990) dan diperbaharui oleh Michael Persinger (1997).

 

Sesuai dengan hasil penelitian terbaru yang disampaikan oleh Ernest Lawrence Rossi dan Kathryn Lawrence Rossi (2016) yang dimuat oleh International Journal of Neuropsychotherapy, menyatakan bahwa Quantum Field (medan kuantum) di alam semesta, berkomunikasi dengan otak kita melalui bagian tubular di sel syaraf otak yang mengantarkan vibrasi aktif ke seluruh bagian otak, dan mengintegrasikan seluruh pemikiran, perasaan dan spiritualitas dalam satu koherensi.

 

Penghantaran gelombang otak yang terjadi pada malam Lailatul Qadar pada manusia yang terpilih ini, mereset otak para manusia yang dipilihNya, seperti yang terjadi pada reset sebuah komputer. Hingga dapat merubah orang tersebut secara menyeluruh dan konsisten hingga hitungan seribu bulan ke depannya.

 

Sejalan dengan ayat Allah dalam Al Quran di surat Al Qadar tentang Lailatul Qadar yang menyatakan bahwa Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan) itu lebih baik daripada seribu bulan. Dimana pada malam itu turun para malaikat dan Roh (Jibril) dengan izin Allah untuk mengatur semua urusan. Bahwa malam kemuliaan (lailatul qadar) tersebut mencurahkan kesejahteraan hingga terbit fajar.

 

Brain state yang telah koheren dengan eksitasi quantum field pada seluruh bagian otak ini, memampukan manusia untuk memproses seluruh informasi inderawi dan non inderawi yang masuk ke dalam otak dengan lebih baik. Tidak hanya orang tersebut akan lebih baik dalam berpikir dan berperilaku, tapi juga dalam penilaian (judgement) dan pengambilan keputusan (decision making). Membentuk pola pikir dan perilaku yang mulia dan mengarahkannya pada kesuksesan yang lestari dan berdampak baik pada dirinya dan orang disekitarnya.

 

Namun, malam kemuliaan ini diraih dengan beribadah malam di masjid-masjid, dalam aktivitas hening. Melakukan ibadah seperti membaca quran, dzikir, dan doa-doa panjang. Maka lailatul qadar tidak dapat diisi dengan memainkan media sosial atau games saat beriktikaf, karena akan menjauhkan dari esensi keheningan dan ibadah yang dapat mendatangkan kemuliaan tersebut.

 

DR (HC) Ary Ginanjar Agustian juga menyampaikan pada jamaah shalat Dzuhur di Masjid Ar Rohim yang terletak di puncak menara 165 untuk mengoptimalkan waktu 10 malam terakhir ini, jauh dari riuh rendah persiapan lebaran seperti memasak ketupat, berburu baju lebaran dan sebagainya yang ramai akan urusan dunia. Untuk memfokuskan diri di 10 hari terakhir ini untuk beribadah secara khusyuk, ikhlas dan tanpa pretensi dunia. Dari situ barulah akan terbentuk pribadi yang memiliki kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional yang tinggi, yang dapat terlepas dari belenggu material di dunia.

 

Akan terikat kokoh dua hal yang memperbudaknya di dunia yaitu nafs amarah (nafsu untuk menguasai materi di dunia), dan nafs lawwamah (nafsu untuk menyenangkan hati manusia, dan bukan Tuhan). Hingga tujuan hidup seseorang yang telah mencapai Lailatul Qadar akan terfokus hanya pada pengabdian untuk Tuhan, dan beramal shalih dalam bermuamalah dengan seimbang. (GINA AL ILMI) 

 


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA