Jumat, H / 23 Agustus 2019

Bacaan yang Menyesakkan Dada

Rabu 29 Aug 2018 13:09 WIB

Rosyid Shobari

Baca Alquran

Foto: blogpesantrenmedia.com

Oleh : Rosyid Shobari*


ESQNews.id - Abdullah bin Ahmad Al-Muqaddasi, di dalam bukunya Ar Riqqah wa al-buka’ sebagaimana dinukil oleh Ahmad Abdul ‘Aal Ath-Thahthawi dalam buku “Kisah Khulafaur Rasyidin” terbitan GIP 2009, menceritakan bahwa suatu malam, Umar bin Khattab melewati rumah seorang muslim. Saat itu, orang tersebut sedang shalat. Umar berhenti untuk mendengar bacaannya, dan ia membaca:


وَالطُّورِ   وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ   فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ    وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ   وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ   وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ

  إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ


“Demi bukit, (Demi Thur) Thur nama sebuah bukit tempat Allah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa.    dan Kitab yang ditulis,     pada lembaran yang terbuka,   dan demi Baitul Ma`mur,  dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,  sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi”  Q.S. At-thur: 1-7.

Umar pun berkomentar, “Sumpah itu pasti benar.”  Lantas Umar turun dari keledainya, bersandar di dinding, menoleh lalu kembali ke rumah dan sakit selama sebulan. Orang-orang menjengujknya dan mereka tidak tahu apa yang membuatnya sakit.

 


Subhanallah, begitu halus dan lembut hati Umar bin Khattab. Beliau begitu mampu menghayati bacaan Al-Qur’an yang bahkan dibaca oleh orang lain. Bacaan itu begitu menyesakkan dadanya. Umar yang dikenal berperangi keras ketika meyakini suatu kebenaran, ternyata berhati sangat lembut. Berbeda dengan kebanyakan kaum muslimin -mungkin kita termasuk di dalamnya-. Jangankan sampai jatuh sakit dengan penghayatan mendalam terhadap bacaan Al Qur’an, bahkan berkaca-kaca pun tidak. Mengapa demikian? Tentu karena kurangnya penghayatan terhadap makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an tersebut.

 


Atau pun karena hati yang sudah terlalu banyak debu dan kotoran yang menyelimutinya, sehingga hati tidak bergetar sedikit pun ketika membaca atau dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Hati yang kotor ini seakan tidak lagi mendamba surga dan segala kenikmatan di dalamnya. Hati yang mengeras ini, seakan tidak takut terhadap siksa neraka yang kekal. Sehingga ketika melewati ayat-ayat yang mengandung rahmah, tidak tergerak untuk berdoa memohon agar mendapatkannya, dan ketika melewati ayat-ayat yang memberikan ancaman azab, tidak pula berdoa untuk terhindar darinya.

 


Berbagai kenikmatan dan kesenangan syahwat duniawi yang diperturutkan, semakin mengurangi sensitifitas hati guna memenuhi seruan kalam Ilahi, di sisi lain semakin mempersempit jalan air mata untuk menetes haru dan takut terhadap maqam Tuhan. Sebaliknya riyadhah ruhiyah, pelatihan ruhani dengan berbagai ibadah dari shalat, puasa, membaca Al Qur’an dengan tartil dan penuh penghayatan, sedekah dan lain-lainnya, akan meningkatkan sensitifitas hati guna terus mendekat kepada petunjuk-petunjuk Ilahi, dan mempermudah linangan air mata karena menangis haru berharap kepada maghfirah dan ridha-Nya.

 

Sesulit apakah kita saat ini meneteskan air mata ketika shalat atau pun membaca Al-Qur’an? Ataukah air mata itu sudah demikian mudah menetes karena kelembutan hati yang senantiasa dekat kepada-Nya. Ya Rabb, lembutkanlah hati ini.



*Penulis adalah guru Bahasa Arab pada MA Ponpes Al lman Muntilan.

Menulis buku Renungan Harian Islam (Araska Jogja, 2017), Pesan-pesan lmam Malik  (Tinta Medina Solo, 2018), Mengenal Kawan dan Lawan Iblis (Tinta Medina Solo, 2018), Mengintip Kembali lman Kita (Quanta Jakarta, 2018) dan lainnya.


Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA