Kamis, H / 25 Februari 2021

Awas, Jariyah Dosa!

Senin 26 Nov 2018 10:50 WIB

Author :M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: (presbydestrian.wordpress.com)

Oleh : M. Nurroziqi

ESQNews.id - "Di antara godaan terbesar orang berilmu adalah lebih senang berbicara daripada mendengarkan." (Imam Ghozali).


Bisa beramal jariyah, tentu menjadi dambaan setiap manusia. Sebagaimana yang sudah dipahami bersama, bahwa amal jariyahlah yang pahalanya terus mengalir. Tidak pernah berhenti balasan kebaikan itu, biar pun seorang yang beramal jariyah itu sudah meninggal dunia. Dari itu, di dunia, hanya sibuk menanam beragam kebaikan. Kebaikan yang tidak hanya selesai, ketika sang diri sudah meninggalkan dunia. Tetapi, kebaikan-kebaikan yang bermanfaat, yang terus menerus bisa dinikmati oleh semua. Inilah jariyah.


Namun, amal jenis jariyah ini, tidak melulu tentang kebaikan. Malahan, ada jenis-jenis ketidakbaikan yang polanya sama dengan amal jariyah tadi. Balasan atas dosa ketidakbaikan itu pun, akan terus dialirkan, senantiasa dihantamkan kepada sang pelaku. Biar pun sudah meninggal dunia, jika ketidakbaikan itu terus ada, bahkan semakin menginspirasi banyak orang untuk mengerjakan, sepanjang itu pula, dosa-dosanya akan disetorkan kepada sang pelaku yang sudah meninggal dunia tadi. Betapa pedihnya. Na'udzubillah.


Dari itu, di sepanjang hidup yang dijalani ini, musti berhati-hati. Jangan sampai, diri ini menginspirasi ketidakbaikan kepada orang lain. Bisa celaka. Biarpun diri sudah selesai, tidak melakukan ketidakbaikan itu, tetapi mereka yang terinspirasi oleh diri ini, istikamah dengan ketidakbaikan tadi, maka selayaknya menanam saham, diri ini pun akan menuai panen akan hasil dari semua itu.


Sebagai misal, di banyak media, dengan aneka ragam cara, di antara kita, ada yang gemar sekali membangun citra buruk pada orang lain. Si ini, dikabarkan sebagai manusia yang banyak cela, penuh ketidakbaikan, tidak bisa apa-apa. Atas kabar ini, banyak sekali manusia yang kemudian memandang tidak baik terhadap orang tersebut. Tumbuh curiga, prasangka yang tidak baik, bahkan mewanti-wanti dirinya sendiri supaya tidak terhubung dengan orang yang dikabarkan sebagai manusia yang penuh cela tadi. Bangunan ketidakbaikan di dalam hati dan pikiran, atas diri orang lain tadi, jelas bukan sesuatu yang benar-benar baik.


Nah, yang menginspirasi akan bangunan ketidakbaikan tadi, sama halnya menanam saham ketidakbaikan atas dirinya. Dan inilah, dosa jariyah itu. Sepanjang semakin banyak yang masih beranggapan tidak baik terhadap seseorang yang dikabarkan tidak baik tadi, maka dosa-dosa akan terus mengalir kepada seseorang yang membangun citra tidak baik tadi. Terus dihantamkan hasil atas tanaman ketidakbaikan tadi, biar pun penanamnya sudah meninggal dunia.


Kejadian serupa itulah, yang saat-saat ini seringkali terjadi. Bukankah membincangkan aib orang yang benar-benar beraib saja tidak diperbolehkan? Apalagi, ini membangun persepsi banyak manusia supaya salah seorang menjadi penuh aib?


Sedang, agama sendiri, mengajarkan manusia supaya berprasangka baik. Bahkan, terhadap manusia yang paling tidak baik pun, harus tetap berprasangka baik. Dan, kepada manusia lain, kita diperintahkan hanya membincangkan kebaikan-kebaikan. Semoga tidak ada seorang pun yang berpandangan tidak baik terhadap sesama makhluk Allah Swt lantaran ketidakbecusan kita menjaga lisan dan akal pikiran.


Kemudian, jangan sampai apa saja yang sudah kita tanam di dunia ini, menjadikan diri rugi di akhirat nanti. Untuk itulah, hidup di dunia yang sekali ini, harus dimanfaatkan betul hanya demi Allah Swt, menanam kebaikan-kebaikan. Dan, semaian kebaikan itu, dijaga betul. Jangan sampai dinodai oleh hama-hama ketidakbaikan diri yang akan merusak amal kebaikan yang sudah disemaikan tadi. Sehingga, seluruh kebaikan yang bertumpuk-tumpuk itu, hilang tanpa guna. Sebagaimana yang diberitakan Rasulullah Saw mengenai manusia yang bangkrut di akhirat kelak. Dari Abu Hurairah r.a. Rasul Saw, bersabda: "Orang yang bangkrut nanti di hari kiamat ialah yang datang kepada Allah Swt dengan membawa pahala shalat, zakat. Akan tetapi di dunia, ia telah mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain yang bukan haknya, menumpahkan darah yang lain, memukul orang lain. Maka, kebaikannya diambil dan diberikan kepada korban-korbannya. Sampai jika kebaikannya habis dan tanggungannya belum selesai, kesalahan atau dosa yang ada pada orang-orang tersebut diambil dan ditimpakan kepadanya. Kemudian, ia dilempar ke neraka." (H.R. Muslim).

 

*M. Nurroziqi. Penulis buku-buku Motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA