Rabu, H / 19 Desember 2018

Ary Ginanjar: Perjuangan Membangun Menara 165 Seperti Perjuangan Perang Muktah

Kamis 03 May 2018 12:43 WIB

Singgih Wiryono

CEO ESQ Group, Ary Ginanjar memberikan sambutan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa, Kamis (3/5)

Foto: Singgih Wiryono

ESQNEWS.id,  JAKARTA - Pendiri ESQ Group, Ary Ginanjar Agustian dalam sambutannya di Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa PT GRHA 165 Tbk. Ary memulai pengantarnya dengan kisah bagaimana panji-panji Allah dipertahankan oleh pasukan-pasukan Allah, sahabat-sahabat Nabi Muhammad saat perang Muktah berlangsung.


"Perang Muktah, yang saat itu ada tujuh ribu muslimin melawan 100 ribu tentara romawi," kata Ary dengan getar suara saat bercerita.


Adalah Ja'far Bin Abu Thalib yang menjadi petugas untuk memegang panji-panji islam bertuliskan kalimat tauhid. Ar Royyan tersebut dipegang teguh oleh Ja'far saat perang berlangsung. Ja'far dengan teguh memegang panji Allah dengan tangan kanannya. Namun, ketika perang mulai menggelegar, dia mendapat serangan dan serangan itu memutuskan tangan kanannya.


"Musuh menebas tangan kanannya, Ja'fat tidak ingin bendera Islam jatuh. Ja'fat mengganti tangan yang putus dengan tangan kirinya," kata Ary dengan suara yang semakin bergetar.


Setelah tangan kiri digunakan untuk memegang bendera, musuh kemudian menebas kembali tangan Ja'far. Seketika Ja'far menggigit tiang bendera bertuliskan kalimat tauhid itu. Saat itulah Ja'far diserang dan mendapatkan Syahid dalam perang Muktah.


Saat ini, kalimat Allah itu tegak di sini, di bumi persada Indonesia. Adalah Menara 165 menjadi wujud nyata tegak dan tingginya Asma Allah di Indonesia.


Tepuk tangan menggelegar di Gradana Ballroom Menara 165. Kemudian Ary Ginanjar melanjutkan kisahnya bagaimana memperjuangkan tegaknya Asma Allah di atas puncak Menara 165 ini.


Dua tahun mangkrak, kata dia, hampir tidak mungkin dalam perhitungan yang normal Menara 165 akan terwujud. Namun, saat itulah terjadi keajaiban-keajaiban hingga Menara 165 berhasil tegak berdiri dengan tulisan Allah bersinar di atasnya.


Seperti Ja'far Bin Abi Thalib, Ary Ginanjar kekeuh untuk mempertahankan agar kalimat Allah tersebut tetap tegak. Satu persatu bantuan datang dari Alumni ESQ, Komisaris perusahaan dan dewan direksi.


Setelah berdiri tegak di tahun 2012 bersama masjid di puncak menaranya, Menara 165 juga sempat digoyang dengan kondisi investasi yang cukup buruk. Saat itulah dengan segenap keyakinan Ary Ginanjar menandatangani beberapa perjanjian agar Menara 165 dengan Asma Allah di atasnya tetap tegak.


"Dengan tangan kanan saya, saya tandatangani apapun yang terjadi. Kurang tangan kanan, saya juga gunakan tangan kiri saya. Demi mempertahankan nama Allah di puncak menara," kata dia.


Tepuk tangan kembali bergemuruh di Granada Ballroom Menara 165.


Menutup kata sambutannya, Ary Ginanjar berharap akan ada Menara-menara 165 lainnya di seluruh Indonesia di tahun 2045. Hal tersebut, kata dia, bisa terwujud sebagai bentuk Indonesia Emas dan generasi Islam yang kembali berjaya di Dunia.


Rapat kemudian dibuka dengan dipimpin oleh Dewan Komisaris. Doktor Sugiharto sebagai Komsaris Utama dan Komisaris Independen memimpin jalannya rapat. Beberapa komisaris yang hadir adalah Doktor Rizqullah Thohuri sebagai Komisaris Independen, Syahrani Budi sebagai Komisaris, Luki Alamsyah sebagai Komisaris.


Sedangkan untuk Dewan Komite yang hadir adalah Lea Sri Endari Irawan sebagai Direktur Utama, Hariyo Puguh Wijaksono sebagai Direktur Perseroan


Dapatkan Update Berita

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA