Kamis, H / 04 Juni 2020

Rumah, Apartemen, dan Keharmonisan

Sabtu 12 May 2018 13:18 WIB

Ida S. Widayanti

Ilustrasi Rumah

Foto: Ida SW

Rumah, Apartemen, dan Keharmonisan

Oleh: Ida S. WIdayanti*

Sepasang suami istri bekerja di jantung Jakarta yang sangat sibuk. Karier mereka di tempat kerja sama-sama meroket, sedangkan mereka tinggal jauh di pinggiran. Rumah mereka cukup asri dan nyaman karena berada di daerah yang masih relatif hijau, namun perjalanan pulang pergi ke tempat kerja sering membuat mereka stres. Mereka sering memilih pulang lebih malam agar terhindar dari kemacetan parah.

Karena sama-sama workacholic alias pecandu kerja, dan tak mau terlambat ke kantor mereka memimpikan memiliki apartemen di pusat kota. Dengan demikian akses pergi dan pulang ke tempat kerja akan sangat mudah. Mereka sekuat tenaga mengumpulkan uang, dan sebuah unit apartemen pun dapat mereka miliki. Mereka begitu bahagia, di hari kerja mereka tinggal di apartemen yang serba praktis dan dekat ke kantor, sedangkan saat akhir  pekan mereka bisa tinggal di rumahnya mereka yang nyaman di luar Jakarta.

Belakangan karena profesinya di bidang marketing makin sukses, sang istri sering visit ke luar kantor bahkan ke luar kota. Akses untuk bepergian lebih mudah dari rumah ketimbang dari apartemen karena jauh dari jalan tol. Lama-kelamaan si istri sering lebih banyak tinggal di rumah, sedangkan suaminya lebih sering tinggal di apartemen.

Karena sering tinggal terpisah, mereka pun makin jarang berinteraksi. Apa yang kemudian terjadi bisa ditebak, mereka menemukan kehidupan baru masing-masing. Suatu hari si istri tahu kalau suaminya membawa wanita lain ke dalam apartemennya.

Kisah nyata tersebut membuat kita merenung. Terkadang dalam kehidupan rumah tangga kemajuan dan peningkatan ekonomi selalu menjadi prioritas. Ketika ekonomi seret seolah keharmonisan rumah tangga pun akan seret. Peningkatan kebahagiaan rumah tangga sekan-akan berbanding lurus dengan pencapaian materi. 

Sulit dipungkiri faktor ekonomi adalah hal yang penting dalam kehidupan rumah tangga. Banyak perceraian terjadi karena bersumber dari kesulitan ekonomi. Namun bercermin pada dua kisah di atas, peningkatan ekonomi pun sangat berpotensi menyebabkan keretakan rumah tangga. Ketika tak mampu bijak menghadapinya berkelimpahan materi malah menyurutkan sakinah, mawadah, warahmah sebuah perkawinan.

Namun begitulah hal yang saat ini kerap terjadi. Setiap hari kita dibombardir dengan ilusi kebahagiaan yang selalu diidentikan dengan kepemilikan materi. Iklan-iklan di televisi, radio, media masa, billboard raksasa di pinggir jalan mengiming-imingi kita dengan banyak hal. Seri mobil terbaru, hunian mewah nan nyaman, gadget tercanggih, hingga pakaian dan perhiasan dengan disain teranyar selalu menggoda mata, pikiran, dan hati. Wajar jika banyak suami istri yang lebih memprioritaskan terjadinya peningkatan taraf ekonomi. Padahal sifat kekayaan adalah selalu dirasakan kurang dan tak cukup. Setiap ada penambahan pendapatan, maka kebutuhan pun akan makin meningkat, makin dikejar makin terasa menjauh. Harta adalah bagian dari ujian yang Allah berikan pada manusia. Jika pasangan suami istri keliru menyikapinya, maka harta benda malah akan menajadi fitnah. Namun sebaliknya jika kita mampu menyuskurinya, maka harta akan menjadi sarana beribadah pada Sang Pemberi Rejeki sehingga menimbulkan keberkahan bagi kehidupan pernikahannya. 

Bagi pasangan suami istri, pastikan bahwa setiap upaya meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi keluarga diimbangi dengan upaya peningkatan keharmonisan rumah tangga. Jika langkah-langkah untuk meningkatkan pendapatkan berpotensi merusak ikatan pernikahan, maka pertimbangkan lagi dan dicari segera jalan lain yang lebih aman. Bagi pasangan yang masih merasakan kekurangan materi, janganlah hal itu membuat kemesraan dan keceriaan kehidupan rumah tangga berkurang. Boleh jadi di saat kesempitan materi itulah justru tersimpan kebahagiaan dan keharmonisan sebuah jalinan pernikahan… 

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28)

*Pemimpin Redaksi ESQNews.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA