Minggu, H / 09 Agustus 2020

Ani Idrus jadi Google Doodle, Siapakah Dia?

Senin 25 Nov 2019 16:49 WIB

Reporter : Endah Diva Qaniaputri

Ilustrasi

Foto: Google

ESQNews.id, JAKARTA - "Mendidik dan berjuang melalui tulisan adalah jalan yang saya pilih. Membiarkan masyarakat tahu keadaan negaranya melalui tulisan adalah cara yang terpuji." - Ani Idrus.


25 November 2019, tampilan Google Doodle nampak berbeda, nampak wanita berdiri tegap membentangkan bahu. Di latarbelakangi oleh koran-koran bertuliskan "Waspada" berwarna coklat dominan. Ialah sosok Ani Idrus, memakai kacamata yang menjadi ciri khasnya.


<more>

Salah satu arti atau makna dari Doodle tersebut menjelaskan bahwa Ani Idrus dikenal sebagai pendiri Harian Waspada Medan. Butuh perjuangan dan usaha yang lebih keras untuk menjadi pers atau wartawan di Era kolonial Belanda. Namun ia tetap berusaha dan berjuang, memiliki tekad yang kuat dan berani mempertahankan apa yang seharusnya dipertahankan.


Tanggal (25/11/19) bertepatan dengan Hari Lahirnya pada 25 November 1918, itulah sebabnya Google ikut serta memperingati Hari Jadi wanita kelahiran Sawah Lunto, Sumatera Barat. 9 Januari 1999 adalah tanggal wafatnya.


Kini usianya menginjak 101 tahun jika beliau masih diberi kesempatan tuk menghirup oksigen di muka bumi ini. Inilah beberapa keistimewaan dari “Ani Idrus” dari berbagai sumber yang mungkin belum banyak orang ketahui:


  1. Saat berusia 12 tahun, ia sudah pandai mengarang dan banyak belajar di dunia pers.

  2. Wanita yang sangat aktif di berbagai macam kegiatan.

  3. Sangat tertarik dengan masalah yang berhubungan dengan masyarakat dan politik.

  4. Memulai karirnya sebagai wartawan pada tahun 1930, “Pandji Poestaka” Jakarta di sanalah ia memulainya.

  5. Tahun 1936 bekerja di “Sinar Deli” Medan sebagai pembantu pada majalah “Politik Penyedar”.

  6. Menerbitkan majalah politik “Seruan Kita” bersama-sama H. Mohammad Said di tahun 1938.

  7. Tahun 1947 menerbitkan “Harian Waspada” juga bersama H. Mohammad Said.

  8. Pada 1988, ia menerima anugerah 'Satya Penegak Pers Pancasila' dari Menteri Penerangan Harmoko yang hanya diberikan pada 12 tokoh Pers Nasional.

  9. Menerima penghargaan dari Menteri Penerangan RI sebagai wartawan yang masih aktif mengabdikan diri di atas 70 tahun pada 1990.

  10. Penulis buku “Terbunuhnya Indira Gandhi”.




Wanita tangguh ini juga mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan Ani Idrus (YPAI). Beliau mendirikan SD Swasta Katlia Medan, lalu Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” serta TK, SD, SMP, SMK, dan SMA Perguruan Eria plus Madrasah Ibtidaiyah Rohaniah.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA