Senin, H / 16 Desember 2019

Akankah Perang Dagang Trump Memicu Penurunan Dolar?

Rabu 05 Sep 2018 17:20 WIB

-

Mata uang dollar

Foto: google pics

Para ahli mempertimbangkan kapasitas riil mata uang lain untuk bersaing dengan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia

ESQNews.id, BOGOTA, Kolombia – Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif dan menjatuhkan sanksi kepada China, Turki, Kanada dan Uni Eropa telah mengguncang perekonomian dunia dan membuat banyak negara memikirkan kembali kebijakan perdagangan mereka. Namun apakah keadaan ini akan menciptakan peralihan global dari dolar AS sebagai mata uang standar di masa ini?


Pada Senin, dilansir dari Anadolu Agency Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiri KTT Dewan Turk keenam di Kirgizstan dan mengusulkan untuk "melakukan bisnis dengan mata uang kami sendiri, alih-alih menggunakan dolar AS", guna mengurangi ketergantungan perdagangan internasional atas mata uang tersebut.


Meskipun apa yang terjadi di negara-negara yang jauh seperti Turki sepertinya tak berefek pada Amerika Latin -- atau yang terjadi di Argentina terhadap Indonesia -- pada kenyataannya negara-negara berkembang di seluruh dunia menghadapi tantangan nyaris serupa. Suku bunga di AS naik, dan dihadapkan pada risiko yang lebih besar, para investor memilih untuk menarik uang mereka dari pasar negara-negara berkembang.


Pekan lalu, efek kupu-kupu ini terjadi pada mata uang Argentina, yang nilainya terpuruk menjadi yang terendah sejak 2002 dari 32 ke 40 peso per dolar. Suku bunga melonjak karena inflasi, defisit fiskal dan utang luar negeri yang tinggi juga menjadi alasan di belakang depresiasi peso.


- Mata uang dunia baru

Namun ini bukan kali pertama perekonomian di dunia berada di persimpangan jalan. China selama 10 tahun terakhir telah meminta Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mereformasi sistem dana cadangan internasional dan membuat mata uang baru yang lebih stabil dalam jangka panjang dan tak bergantung pada negara tertentu, tapi ini bukan tugas mudah.


Dolar AS telah menjadi mata uang cadangan sejak 1944 berkat Perjanjian Bretton Woods, yang menampung tata cara perdagangan lintas negara dan dasar pendirian Bank Dunia dan IMF.


Saat ini, tidak ada mata uang lain yang memiliki level dan likuiditas seperti dolar atau pasar obligasi sebesar dolar. Bahkan untuk alasan-alasan politik, banyak negara akan terus menggunakan dolar AS sebagai mata uang referensinya. 


"Dari semua mata uang di dunia, dolar terlibat dalam 86 persen transaksi harian. Dua per tiga dana cadangan perbankan dunia juga didominasi oleh dolar," kata Alex Sierra, seorang ilmuwan politik dan internasionalis yang juga merupakan presiden eksekutif Dewan Kolombia untuk Asia Tenggara dan Sekretaris Jenderal Dewan Bisnis Kolombo Czech.


Meski begitu, berlawanan dengan apa yang pernah disebut oleh jurnalis Hong Kong, Henry C.K. Liu, pada 2002 yakni "hegemoni dolar AS", saat ini lebih banyak negara yang mulai melakukan transaksi menggunakan yuan China.


Pada pertengahan Agustus, Bangladesh menjadikan yuan sebagai mata uang dana cadangan mereka untuk aktivitas komersial dengan China. Pakistan bahkan telah menggunakan mata uang ini untuk impor, ekspor dan transaksi finansial sejak Januari, sementara India, negara dengan perekonomian terbesar ketiga di Asia, melonggarkan aturan utang mereka dengan mengizinkan perusahaan-perusahaan berutang dalam yuan.


"Dengan sanksi-sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Donald Trump, atmosfer ketidakpercayaan tercipta dan menambah peran negara-negara yang disebut sebagai pemain "Kelas Dunia" seperti China. Sepuluh tahun lalu, negara tersebut memiliki situasi yang hanya sedikit orang yang bisa memahaminya, dan saat ini China memiliki nyaris separuh dana cadangan dunia dalam dolar [sekitar USD3,16 triliun]", kata Giovanni Reyes, profesor dan peneliti dari Universitas Rosario di Bogota.


Meski begitu, Nelson Vera, kepala peneliti makro-finansial di Asosiasi Nasional Institusi Finansial Kolombia (ANIF), saat berbicara tentang ekspansi yuan, mengatakan bahwa mata uang China ini pertama-tama harus diliberalisasi dan regulasi berlebih dalam suku bunganya harus dibatasi.


"Ini bukan sesuatu yang bisa Anda lihat dalam lima tahun mendatang. PDB China naik secara signifikan karena pemasukan impor yang tinggi adalah hal yang normal, kata dia, sehingga bisa mempercepat transaksi komersial. Namun yang tidak bisa dilupakan, neraca modal yuan masih tertutup dan tingkat konvertabilitas yuan menghalanginya menjadi mata uang cadangan seperti dolar AS."


"Siapapun bisa melihat ini dalam kepemilikan dana cadangan mata uang asing di beberapa bank sentral: sekitar 80 atau 90 persen dalam dolar, euro dan aset perlindungan utama di Asia, yakni yen Jepang." 

Dengan fakta terbentuknya blok-blok ekonomi baru yang memakai mata uang nasional berbeda, Sierra mengambil kesimpulan yang mirip dengan Vera.


"Mata uang yang dipakai oleh blok regional atau gabungan tidak bisa dipisahkan dari model fungsional sistem kapitalis saat ini, karena mayoritas operasi dan cadangan masih dalam dolar. Itu sebab, India, Rusia dan China harus membuat transisi, namun ini akan memengaruhi pasar dan membuat mata uang mereka volatil. Sebagai tambahan, negara-negara berkembang dan berkekuatan ekonomi maju memiliki lebih dari 75 persen PDB dunia dalam dolar. Persentase sisanya dalam mata uang lain."


Masih harus diamati lagi apakah yuan atau mata uang lokal lain bisa mengalahkan dolar dari singgasananya, sementara negara-negara berkembang berusaha menghadapi keputusan-keputusan Trump yang gila dalam perang mata uang yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti sekarang ini.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA